Menyikapi Kelangkaan Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik

Surel Cetak PDF

Sudah menjadi hal yang rutin terjadi, di masa petani sangat membutuhkan pupuk selalu terjadi kelangkaan pupuk. Ini merupakan fenomena yang sering di alami oleh kaum yang sangat besar jasanya  terhadap pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia pada umumnya dan masyarakat Banyuwangi pada khususnya.

Demikian juga pihak terkait merasa saling menyalahkan terhadap sulitnya petani dalam  mendapatkan pupuk  (anorganik,  dibaca  pupuk  urea).  Entah  itu  distributornya, penyalurnya  maupun  sampai  pada  kios.  Apalagi  ada  beberapa  pihak  yang saling memperkarakan masalah kelangkaan pupuk. Hal yang sangat kurang baik dan bukannya menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah  dan contoh yang tidak baik bagi masyarakat petani.Bukan rahasia lagi di tempat pembuatan pupuk di Gresik saja kelangkaan pupuk terjadi.  Mensikapi kelangkaan pupuk di daerahnya komisi B DPRD Gresik melakukan hiering  dengan  distributor dan pihak PT Petrokimia Gresik selaku produsen  dalam temuannya dilapangan komisi B menemukan adanya permainan pupuk ditingkat distributor dan kios sehingga pupuk di Gresik langkah. Lalu yang terjadi di Banyuwangi kasusnya apa? Ini menjadi Home work kita, mulai dari  Pemerintah Daerah, DPRD, Distributor sampai Kios. Jangan mencari kambing hitam. Tapi solusi yang harus kita lakukan.

 

Kami tertarik pada salah satu partai yang memiliki kegiatan yang  bisa menjadi contoh bagi partai-partai yang  lain, yaitu pelaksanaan kegiatan yang  mampu meningkatkan SDM petani  dengan pengembangan  teknologi yang  berwawasan lingkungan.(dengan catatan semoga murni menjadi kegiatan yang positip). Kalau kita lihat negara Tiongkok, India, Nepal  permasalahan pupuk, terutama pupuk anorganik bukan menjadi masalah karena langkanya, tapi malah menjadi masalah bagi mereka karena  menimbulkan dampak yang serius terhadap microorganisme tanah, unsur hara yang ada dalam tanah dan kemampuan tanah. Mengapa demikian? Pertanyaan ini perlu di jawab dengan baik dan benar?

Coba kita mereview di sekitar tahun 1971-an, awalnya petani menerapkan pertanian yang berwawasan lingkungan yang memang untuk pemenuhan produksi belum maksimal karena teknologi pada saat itu belum berkembang secara maksimal. Kemudian muncul revolusi hijau, dimana input  pertanian memerlukan bantuan dari luar yang kita sebut sebagai pupuk, pestisida? Awalnya petani  tidak  mau bahkan menolak, tetapi dengan segala cara penguasa pada saat itu memaksakan untuk memakai pupuk anorganik tersebut tanpa melihat dampak yang muncul. Mulai efek yang muncul pada  tanah; penurunan kualitas tanah, matinya microorganisme tanah, penurunan kesuburan tanah (eksploitasi tanah), munculnya ledakan hama, terkumulasinya residu pupuk maupun bahan kimia dari pestisida  sehingga  muncul  penyakit-penyakit yang sulit  dikendalikan  seperti  kanker kemudian terjadinya pemanasan global, karena ekologi di sekitar lahan pertanian mulai berubah.  Dari sebagian peristiwa yang  merupakan dampak negatif yang muncul dari pemakaian pupuk yang tidak berimbang tersebut maka  perlu dilakukan suatu gerakan yang telah berhasil dilakukan oleh penguasa pada saat itu (1971) maksudnya usahanya, tetapi materi pelaksanaannya  jelas  berbeda  yaitu  back  to  nature,  penggunaan pupuk organik yang mungkin sudah menjadi program di hampir setiap wilayah di Indonesia,tetapi gaungnya terasa seperti jalan di tempat. Kami menghimbau pada kaum petani untuk belajar apa itu bahan organik yang merupakan subtitusi pupuk anorganik? Melalui penelitian ditemukan bahwa beberapa zat tumbuh dan vit amin dapat diserap langsung dari bahan organik dan dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Dulu dianggap orang bahwa hanya asam amino, alanin, dan glis in yang diserap  tanaman.  Serapan senyawa N tersebut ternyata  relatif rendah  daripada bentuk N lainnya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan vitamin serta pada waktu-waktu   tertentu   dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan jasad mikro. Bahan organik ini merupakan sumber nutrien inorganik bagi tanaman. Jadi tingkat pertumbuhan tanaman untuk periode yang lama sebanding dengan suplai nutrien organik  dan inorganik. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan langsung utama bahan organik adalah untuk menyuplai nutrien bagi tanaman. Penambahan bahan organik kedalam tanah akan menambahkan unsur hara baik makro maupun mikro yang  dibutuhkan  o leh  tumbuhan, sehingga pemupukan  dengan  pupuk anorganik yang  biasa  dilakukan  oleh  para  petani  dapat  dikura ngi  kuant itasnya karena tumbuhan sudah mendapatkan unsur-unsur hara dari bahan organik yang ditambahkan kedalam tanah tersebut. Efisiensi nutr isi tanaman meningkat apabila per mukaan tanah dilindungi dengan bahan organik.

Sumbangan  bahan  organik  atau  pupuk  organik  terhadap  pertumbuhan tanaman berpengaruh terhadap sifat - sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah. Bahan orga nik tanah mempengaruhi sebagian besar proses fisika, biologi dan kimia dalam tanah.  Bahan organik memiliki peranan kimia didalam menyediakan N, P dan S, untuk tanaman peranan biologis didalam mempengaruhi aktifitas organisme mikro flora dan mikro fauna, serta peranan fisik di dalam memperbaiki struktur tanah dan lainn ya.

Hal  ini akan  berpengaruh  terhadap pertumbuhan tanaman yang tumbuh ditanah tersebut.  Besarnya pengaruh ini bervariasi tergantung perubahan pada setiap faktor utama lingkungan.  Sehubungan dengan hasil - hasil dekomposisi bahan organik dan sifat - sifat humus maka dapat dikatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat dan ciri tanah.

Jadi semakin jelas bahwa kita seharusnya sudah merubah metode pertanian kita, terutama pemu pukan yang kita laksanakan harus berimbang dan berwawasan lingkungan. Memang pada awalnya hasil yang diperoleh bila kita pergunakan pupuk organik tidak maksimal, tetapi jangka panjang nya lahan yang kita miliki akan mampu secara bertahap dengan biaya pupuk yang rendah mampu  meningkatkan produksi pertanian kita. Penggunaan pupuk anorganik tetap diperlukan tetapi dosisnya dikurangi,  yang dulunya 100% anorganik, berikutnya menjadi 70% anorganik dan 30% organik, selanjutnya 50% anorganik dan 50% organik dan yang paling berwawasan lingkungan dan menurunkan biaya pengadaan pupuk anorganik adalah 30%  anorganik dan 70% organik.

Bagaimana program ini bisa berhasil? Mari kita jawab bersama :

Eksekutif harus mengeluarkan regulasi yang menerapkan penggunaan pupuk organik yang berwawasan lingkungan, Legislatif harus selalu memonitor pelaksanaan regulasi tersebut melalui payung hukum yang jelas dan mefasilitasi masyarakat khususnya petani, Lembaga Pendidikan dan penelitian yang selalu memberikan pencerahan bagi masyarakat tani untuk merubah pola pikir mereka untuk bagaimana menggunakan pupuk organik, Lembaga Swadaya maupun lembaga yang sejenis yang komit pada pertanian organik, tokoh masyarakat dan petugas penyuluh pemerintah maupun penyuluh swakarsa harus siap kapanpun, tidak hanya menunggu bila ada permasalahan ditingkat petani, tetapi berusaha melayani kapanpun waktunya, dan itu harus dimulai dari saat ini. Sehingga kelangkaan pupuk anorganik dapat digantikan dengan pupuk organik.

oleh : Andi Karya Catur, SP., MP

Dekan Fakultas Pertanian Untag Banyuwangi

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 2 guests online
Jumlah pengunjung hari ini 45 orang, kemarin 27 orang, minggu ini 148 orang, bulan ini 490 orang, jumlah pengunjung sampai saat ini adalah 35075 orang

Kontak Support

Untuk informasi lebih jelas, anda bisa menghubungi Contact Support kami di bawah ini

Status YM

Status YM

Facebook